Rabu, 29 November 2017

Selamat Tinggal Pulau Harapan (OasEksplorasi Day-4)



Pagi itu, kami bangun dengan tidak semangat. Eksplorasi telah selesai, waktunya untuk pulang ke rumah ASLI kami masing-masing. Kami diberi sarapan oleh Ibu, aku makan dengan sedih karena kami sudah mau meninggalkan Pulau Harapan yang sangat menarik untukku. Walaupun masakan Ibu seperti biasa, tapi sarapan pagi itu sangatlah menyiksa! Akhirnya dengan penuh perjuangan, aku menghabiskan makananku.

Pagi itu, waktu kami habiskan untuk packing barang-barang yang semalam tidak sempat kami bereskan. Semalam, kami sudah merasa sangat lelah, jadi masih ada beberapa barang yang belum sempat kami urus. Dan sayangnya, dari semalam aku merasa tidak enak badan. Jadi dengan badan yang tidak fit, aku mendorong diriku untuk tetap semangat!

Kami selesai packing, dan siap untuk jalan! Kak Lini, mentor kesayangan kami, sudah menjemput dan menunggu kami di depan rumah. Kami mengobrol dulu sebelum betul-betul meninggalkan rumah inang. Kami mengobrol, sambil memakai sepatu dan membetulkan tas.

Sebelum kami berangkat ke pelabuhan untuk kembali ke Jakarta, kami berfoto dulu bersama Bu Jejah. Sayangnya, pagi itu Bapak Sahroni sudah pergi memancing, dan anak-anaknya Bu Jejah sudah melakukan aktivitas mereka masing-masing. Jadi, foto keluarga kami, hanyalah Tata, Aku, Syifa, dan Bu Jejah. Ibu memberikan kami oleh-oleh kerupuk dan pempek ikan khas dari Pulau Harapan. Dan akhirnya “Terima kasih bu, karena sudah mau menerima kami untuk menginap di rumah Ibu selama 3 hari.” terucap dari mulutku. Aku akan sangat merindukan Pulau Harapan dan Keluarga Pak Sahroni!
 © Kak Lini

Akhirnya, kami memulai perjalanan kami ke Pelabuhan Pulau Kelapa. Titik kumpul kami pada saat itu, ada di persimpangan PKBM yang kami lewati pada hari pertama kami, di Pulau Harapan. Saat berjalan, kami melewati gang-gang yang pernah kami lewati saat eksplorasi sore kami waktu itu. Memori-memori mulai berlalu lalang di benakku, membuatku menjadi lebih susah untuk melepaskan Pulau Harapan dan untuk menyelesaikan eksplorasi ini. Dengan tas carrierku yang sepertinya sudah menjadi 10 kg, kami akhirnya sampai juga di titik kumpul. Kami beristirahat sebentar, lalu lanjut ke pelabuhan untuk naik kapal yang akan mengantar kami pulang. 

© Kak Anne

Saat memasuki kapal, kami semua langsung menuju lantai bawah, untuk menaruh tas kami. Aku duduk bersama Adiva, Katya, Yla, Dinda dan banyak lagi. Di kapal, aku merasa maagku kumat, dan memutuskan untuk beristirahat saja. Aku tiduran, sementara teman-teman yang lain bermain. Tapi tak lama, aku sudah merasa lebih baik, dan ingin menghirup udara segar. Jadi, aku ke dek kapal bersama Ziel, dan di atas, bertemu banyak teman. Perjalanan pulang kami terasa begitu singkat. Tau-tau saja, kami sudah diinformasikan bahwa sebentar lagi sampai Pelabuhan Sunda Kelapa. 




Dari pelabuhan, kami naik busway untuk pergi ke St. Jakarta Kota. Disana, kami berpencar karena rumah kami arahnya berbeda-beda. Aku, Abel, Ziel, Kaysan, Agla & Alev, Yla & Vyel, bersama Kak Shanty, naik kereta yang arahnya Ke Bekasi. Seharusnya Kak Lini juga, tapi sayangnya, Ia tertinggal di St. Jakarta Kota. Di kereta, kami mengobrol asyik, sampai tidak sadar bahwa satu-persatu dari kami turun di stasiun yang berbeda-beda. Sampai yang tersisa, hanya Aku dan Abel yang turunnya di stasiun yang sama, yaitu St. Kranji.

Sesampainya kami di St. Kranji, kami dijemput oleh orang tua masing-masing. Pada hari itu Abel dan Tante Afri, ibunya, menebeng di mobil kami, jadi terasa sangat ramai dan asyik di mobil. Rumah Abel sangat dekat dengan rumahku, jadi setelah mengantar Abel dan Tante Afri kerumahnya, Aku, Papa, dan Mama langsung pulang, karena esok harinya, aku akan pergi eksplorasi lagi bersama kakak-kakak Sekala Petualang dalam acara BioBlitz :)

Terima Kasih teman-teman dan kakak-kakak mentor semua, karena telah membuat eksplorasi ini menyenangkan!!!

Selasa, 28 November 2017

Mengeksplorasi Kepulauan Seribu Bersama Pak Sahroni (OasEksplorasi Day-3)



“AAAAAH UDAH JAM 5!!!!” Teriakku sambil memukul-mukul tata dengan pelan. Tata terbangun dengan kaget dan dengan bingung. “Kenapa Rat?!” kata Tata dengan bingung. “Gw kan janjian sama Alev jam 4 mau ambil sunrise” kataku menjawab pertanyaan Tata. Aku memang sudah berjanji dengan Alevko dan Aza untuk mengambil footage sunrise di belakang rumah. Dan bodohnya aku, aku sudah bangun jam 2, tetapi aku menunda waktu untuk membangunkan Tata, karena aku melihat Tata tidur dengan sangat lelap. Jadi aku merasa kasihan untuk membangunkan Tata. Tapi jam 2.30, aku memutuskan untuk istirahat kembali supaya nanti pas shooting tidak ngantuk, tapi malah keterusan sampai jam 5!

Tepat jam 5 itu, aku langsung mengambil perlengkapan camera, tripod, dan langsung keluar kamar. Untungnya Ibu sudah bangun, jadi kami bisa pamit. Aku, Syifa, dan Tata, bergegas ke belakang rumah, dan melihat sudah ada Alevko, Vyel, Kaysan, dan Naufal yang sarapan di belakang rumah mereka. Karena juga ada Kak Lini disitu, kami mentoring sebentar untuk persiapan mengerjakan output hari ini.

Jadwal hari ini adalah mewawancarai bapak (untuk output), menggali kehidupan keluarga Pak Sahroni (bapak inangku) lebih dalam, dan ikut melaut bapak (untuk output).

Setelah kami mengobrol dengan Kak Lini, kami beranjak pulang untuk sarapan dan siap-siap mengerjakan output. Aku dan Tata memiliki jadwal yang sama hari ketiga ini, tapi berbeda dengan Syifa. Pagi itu, Syifa pergi ke rumah inangnya Yudhis, Aza, dan Ziel, bersama Pak Sahroni untuk kebutuhan outputnya. Sementara aku dan Tata dirumah mengobrol dengan Bu Jejah. Ternyata Bu Jejah memiliki 4 anak dengan usia yang beraneka ragam. Yang paling menarik dari kehidupan Bu Jejah, menurutku adalah untuk membangun rumah yang Ia tinggali saat ini, butuh perjuangan yang sangat besar. Ibu dan Pak Sahroni menabung sekian lama untuk membangun rumah ini, dan akhirnya setelah menabung, Ibu dan Bapak dapat mewujudkan impian besar mereka.

Ibu dulu sempat berjualan di sekolah, tapi sekarang sudah tidak. Bapak kurang setuju jikalau Ibu bekerja juga, jadi sekarang, pekerjaan Ibu Jejah adalah menjadi seorang ibu rumah tangga yang sangat bahagia. Ibu bilang, “saya sangat menikmati pekerjaan saya sebagai ibu rumah tangga, bisa bersama anak-anak saya terus, bisa memasak makanan-makanan untuk mereka, yah pokoknya saya senang menjadi ibu rumah tangga”. Dari informasi yang aku terima dari Ibu, anak pertama dari Bu Jejah dan Pak Sahroni sedikit susah berbicara. Walaupun sudah umur 20-an, tetapi sedikit susah berbicara.

Aku sangat salut kepada Ibu dan Bapak karena dengan sabar, mereka mendidik, membimbing, dan mereka sangat sayang kepadanya. Sampai sekarang, anak pertamanya masih tinggal bersama Bapak dan Ibu.

Aku, Tata, dan Bu Jejah, sudah membicarakan tentang banyak sekali hal, tapi Syifa dan Pak Sahroni belum datang pula! Kami bingung, karena hari sudah mulai siang dan kalau melaut siang-siang, ikan di laut kurang banyak. Aku mendapatkan informasi ini dari Pak Sahroni yang waktu itu sempat bercerita tentang pekerjaannya. Kami menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu, tapi tetap saja. Syifa tak kunjung datang!!!

Sampai Adiva dan Katya mampir ke rumah kami sebentar, ngobrol dulu, sampai mereka pergi, dan datang lagi!! Syifa dan Pak Sahroni masih belum datang! Akhirnya aku dan Tata memutuskan untuk menjemput Syifa ke rumah inangnya Yudhis. Kami akhirnya berjalan tanpa tahu arah, untungnya kami bertemu dengan Adiva lagi, jadi Adiva memawa kami ke rumah inangnya Yudhis. Ketika kami sampai, tidak ada tanda-tanda ada Syifa karena sendalnya tidak ada. “Permisi bu, Syifanya ada?” tanyaku kepada Ibu inangnya Yudhis. “Eh tadi ‘Sipa’nya barusan pulang dek” jawab ibu, yang membuatku dan Tata terkejut sekaligus lelah. Akhirnya dengan berat hati dan kaki, kami pamit, dan langsung beranjak pulang.

Perjalanan dari rumah Yudhis sampai rumahku tidak dekat, jadi melelahkan menurut kami yang sudah menunggu lama. Ketika sampai rumah kami, kami melihat Syifa, Bapak, dan Ibu sedang duduk di halaman depan. Syifa melihatku dan langsung tersenyum “Kamu ngapain jemput aku” Tanya Syifa yang hanya aku jawab dengan “lu lama”.

Bapak menyuruh kami siap-siap untuk berangkat melaut, karena sudah jam 9.00, dan kami masih kelelahan habis berjalan ke rumah Yudhis. Aku sudah menyiapkan semua perlengkapan output tadi saat menunggu Syifa, jadi aku ke kamar, mengambil tas, lalu aku siap untuk melaut! Ibu menyiapkan bekal makan kami, sementara aku dan Tata membujuk Syifa untuk ikut melaut bersama kami. Tapi selalu ditolak oleh Syifa karena katanya Ia masih mau mewawancarai orang di Pulau Harapan. Tak lama kemudian, Ibu mengeluarkan Tupperware milik Tata, dan kami siap berangkat menjelajahi pulau bersama Pak Sahroni!!!

Tujuan pertama kami adalah Pulau Papateo, pulau ini bukanlah pulau yang banyak orang bisa masuk tanpa ijin. Karena saudara Pak Sahroni adalah seorang penjaga pulau di Pulau Papateo, kami diperbolehkan ‘main’ sebentar. “Waaaaaah, bagus banget pulaunya yaa?!!” kata Tata dengan mata yang berbinar-binar melihat pantai di Pulau Papateo. Pak Sahroni memarkir kapal, lalu kami diperbolehkan untuk turun dan menjelajah pulau ini. Kami bermain di pantai yang berpasir putih dan halus, kami juga bercerita-cerita di tepi pantai. Sekitar 15 menit setelah kami bermain, kami dipanggil untuk mengambil kelapa dari pohonnya langsung. Pak Sahroni memanjat pohon kelapa, dengan cekatan, dan mengambilkan buah kelapa dari atas. Saudaranya Pak Sahroni bertugas untuk membukan kelapa yang tadi diambil oleh Pak Sahroni. Aku dan Tata diberi buah kelapa masing-masing satu, dan segarnya kelapa itu!! Beda dari yang biasa ku minum di kota.

Kami tidak menghabiskan waktu lama-lama karena kami mau memancing. Jadi kami berangkat dari Pulau Papateo ke Pulau Gosong untuk memancing!!! Aku mendapatkan footage yang banyak ketika bapak sedang memancing di Pulau Gosong. Tapi sayangnya, kami tidak mendapatkan ikan disini, jadi kami berangkat dari perairan Pulau Gosong ke  perairan Pulau Sepak. Kami mendapatkan ikan yang cukup banyak di Pulau Sepak! Tapi juga banyak yang kami lepas kembali karena ikannya masih kecil. Kami memancing lumayan lama, sampai akhirnya perut kami berteriak meminta makan. Karena memang sudah jam 12.30, yang artinya sudah jam makan siang. Jadi, kami berhenti di Pulau Sepak dan makan di atas kapal sambil melihat ikan-ikan di bawah kapal kami. Ibu membawakan kami bekal ikan bumbu kuning yang lezaaaat sekali. Dan kami makan di laut, jadi spertinya makanan kami tambah lezat!

Kami melahap makanan kami yang enak, sambil memberi makan ikan-ikan dilaut juga. Setelah makan, aku meminta izin untuk mewawancarai Pak Sahroni. Wawancara berjalanan dengan lancar karena cara bapak menerangkan sesuatu, sangat mudah dipahami. Setelah wawancara, kami diperbolehkan turun dari kapal, dan mengekslor Pulau Sepak.
 
Pulau Sepak adalah pulau yang banyak pohonnya, dan banyak bulu babinya. Aku dan Tata bermain-main di air sambil bercanda-canda sampai kelelahan dan akhirnya kami duduk di kursi dekat pohon yang rimbun. Ketika sedang mengobrol, aku melihat ada seekor binatang. Aku belum sadar dengan apa yang aku lihat. Tetapi ketika sadar, ternyata binatang itu adalah seekor biawak!! Dengan cepat, aku melompat dari kursi, membuka tutup lensaku, dan langsung memotret biawak itu sebanyak-banyaknya. Kami sempat mencari biawak ke tempat pembuangan sampah, tapi sayangnya, tempat pembuangan sampah digerbang dan yang boleh masuk hanya yang punya urusan penting.

Karena sudah mulai sore, kami mulai perjalanan kami lagi ke perairan Pulau Belanda, untuk memancing. Ternyata kami mendapatkan ikan yang lumayan banyak, jadi pada hari itu, kami  bahagia karena mendapatkan ikan yang banyak.  Kami memancing di perairan yang berbeda-beda dan mendapatkan ikan yang bermacam-macam. Sampai, kami memutuskan untuk pergi ke Pulau Bulat untuk melihat-lihat. Wah, ternyata bagus ya Pulau Bulat, kami dijelaskan bahwa Presiden kedua Republik Indonesia, Pak Harto, pernah tinggal disini.

Kami sudah lelah, dan memutuskan untuk pulang. Akhirnya pada jam 4.30, kami sampai di Pulau Harapan. Kami mengobrol dulu di dekat jajanan pulau bersama teman-teman lainnya. Aku dan Tata menceritakan tentang betapa bagusnya pulau-pulau yang tadi kami datangi. Dan akhirnya, kami berjalan pulang karena ingin mandi, dan istirahat. Tapi saat berjalan ke rumah, kami bertemu bapak yang sedang duduk di saung di belakang rumah. Jadi aku memutuskan untuk  mewawancarai bapak pada sore itu. Wawancaranya sangat mengasyikkan karena kami mendapatkan banyak sekali informasi tentang terumbu karang, dan tentang pekerjaan bapak. Setelah wawancara, aku mengambil beberapa footage sore, lalu beranjak pulang ke rumah. Di rumah, kami sudah dihidangkan makan malam. Dengan lahap, kami makan makanan yang sudah dihidangkan, lalu langsung masuk kamar.

Malam itu, kami pergi ke rumah mentor untuk menulis refleksi dan diberi jadwal pulang untuk besok. Ya, kami mengakhiri malam kami dengan packing barang-barang kami untuk besok. Hiks, selamat tinggal Pulau Harapan :(

Wihiiiiii, Bermain Di Kepulauan Seribu!! (OasEksplorasi Day-2)



“Duh panas banget sih?!” pikirku yang masih  tergeletak di ranjang dengan baju yang basah kuyup terkena keringat. Walaupun ada AC di kamar, tapi sepertinya AC tersebut membuat kamar malah tambah panas. Saat kulihat jam tanganku, ternyata baru jam 2 pagi! Ugh, malam masih panjang, dan aku tidak bisa tidur karena panas yang sangat menusuk. Akhirnya, aku mengambil buku ku, dan mengipasi diriku sampai aku tertidur lagi.

Aku terbangun lagi jam 05.00 pagi, dan langsung memukul pelan punggung Syifa dan Tata. Ya, untungnya mereka bangun cepat, jadi aku merasa lebih tenang karena tidak ada PR membangunkan orang yang susah dibangunkan. Pagi itu, kami langsung mengambil bolpen dan buku, sehingga dapat langsung menyelesaikan jurnal yang kemarin belum selesai.

“Toktoktok” suara itu terdengan dari pintu kamar kami. “Syifa, Tata, sarapan dulu” suara Ibu masuk dari depan pintu kamar. Memang, Ibu tidak pernah sekalipun memanggil namaku :(. Ibu membelikan kami sarapan nasi uduk dan teh hangat. Wah, nikmat sekali rasanya.

Hari ini jadwal kami adalah membersihkan pantai di Pulau Kayu Angin Bira, snorkeling di Perairan Pulau Macan, lalu bermain sepuasnya di Pulau Perak!!!

Jam 06.00, kami sudah siap dengan tas kami yang berisi barang-barang yang dibutuhkan nanti. Dan akhirnya setelah beberapa menit kami bergelud dengan kamar yang berantakan, pada jam 06.30 kami siap berangkat ke titik kumpul!!
 Titik kumpul kami, pada hari itu di taman terpadu. Kami berjalan cepat, lebih tepatnya berlari ke taman terpadu karena takut telat. Disana sudah banyak teman-teman berkumpul, sambil bermain ayunan. Setelah semuanya berkumpul, kami diberi pelampung masing-masing dan siap berangkat!!!!!

Tujuan pertama kami adalah Pulau Kayu Angin Bira. Kami mengumpulkan sampah-sampah di pulau ini. Wah, panas betul pagi itu. Pulau ini adalah pulau dimana penyu bertelur, tapi sayangnya pulau ini banyak sampahnya. Jadi kami bertugas untuk memungut sampah-sampah yang berserakan di pulau ini. Aku, Tata, dan Syifa berhasil menumpulkan sampah banyak! Dan ketika kami lihat, teman-teman kamipun mendapatkan sampah dalam jumlah yang banyak juga!!! Kami hebat ya?!

Kami begitu kelelahan karena mengelilingi pulau sambil memungut sampah. Tak lama setelah kelompokku selesai, kami dipersilahkan naik ke kapal untuk meneruskan perjalanan. Kami pergi ke perairan Pulau Macan untuk bersnorkeling. Pertama, aku agak takut-takut karena aku ngeri kalau tenggelam. Tapi terima kasih kepada Ziel dan Abel yang telah memberanikanku, akhirnya aku melompat dan wah, segar juga ya! Ikan-ikan benar-benar sangat dekat dengan kami, bahkan kami dapat memegang ikan-ikannya. Kami snorkeling cukup lama, dan kami sempat di foto dalam air. Pokoknya keren deh!!

Teman-teman sudah mulai naik keatas kapal, jadi aku ikut naik. Saat menaiki kapal, badanku jadi terasa sangat berat. Aku hampir jatuh lagi saat memanjat kapal. Setelah berhasil bergulad dengan tangga kapal, akhirnya aku berhasil menapakkan kakiku di atas kapal. Pada saat itu, matahari sangat terik, jadi kakiku kepanasan dan membuatku lompat-lompat di atas kapal.
Selesai kami snorkeling, kami dibawa ke Pulau Perak. Disana kami makan siang, lalu kami…… BERMAIN!! Aku sudah menunggu berbulan-bulan untuk hari ini, dan akhirnya tiba! Kami bermain di pantai yang sangat indah. Awalnya, aku hanya ingin di pasir saja tanpa basah-basahan. Tapi sayangnya, Fattah memasukkan pasir basah ke dalam bajuku. Jadi mau tidak mau, aku ikut basah-basahan. Tapi aku berterimakasih juga ke Fattah, karena kalau dia tidak memasukkan pasir basah ke bajuku, mungkin aku tetap tidak ikut basah-basahan dan melewatkan keasyikan yang luar biasa! Saat aku sedang nyebur ke laut, sepertinya ada serangga atau binatang yang menyengat kakiku. Jadi aku tidak bisa melanjutkan bermain di air :(. Tapi untungnya setelah kakiku disengat, kami pulang, jadi aku tidak merasa begitu dirugikan.

Setelah perjalanan yang lumayan panjang, kami akhirnya sampai Pulau Harapan. Jam 15.00 Aku, Tata, dan Syifa sudah sampai rumah inang dan langsung mandi karena habis snorkeling. Tak lama setelah kami mandi, kami memutuskan untuk keluar rumah, dan aku memutuskan untuk mengambil beberpa footage untuk outputku yaitu sebuah video documenter.

Tidak ada yang spesial sore itu, jadi kami memutuskan untuk kembali ke rumah berharap ada makanan. Dan yak!! Saat kami pulang, hidangan makan malam sudah ada di atas meja! Wah terlihat sangat lezat makan malam kami waktu itu. Kami mendapatkan makan malam ikan goreng andalan Bu Jejah yang lezat, sup sayur yang hangat tapi segar, bersama tempe yang digoreng keemasan. Dengan lahap, kami menyantap makan malam kami. Malam itu, kami tidak mengerjakan jurnal kami di luar karena kami terlalu lelah. Jadi setelah makan malam, kami masuk kamar dan menulis jurnal.

Dan kami mengakhiri malam kami dengan merekam “room tour” dengan pembawa acara Syifa!! Malam itu mungkin malam yang paling lucu untuk kami.
 

Senin, 27 November 2017

Perjalanan Dimulai (OasEksplorasi Day-1)


Alarm di ponselku sudah berbunyi berkali-kali, dan ketika aku tersadar, TERNYATA SUDAH JAM 3.30 PAGI!!! Seharusnya aku bangun jam 3.00 pagi ini, jadi aku langsung lompat dari ranjang, dan dengan buru-buru aku mengambil handuk yang tergantung di jemuran. Di dalam kamar mandi, kehebohan pun terjadi. Aku memakai sampo sebagai sabun cuci muka, memakai sabun mandi sebagai odol, dan hampir terpeleset karena buru-buru. Untung, malam sebelumnya aku sudah menyiapkan baju yang akan kupakai saat eksplorasi, jadi aku tinggal memakai baju di atas ranjang.


Aku memasukkan carrier dengan berat 8 kg itu, ke dalam mobilku yang sudah di panaskan oleh papa. Akhirnya jam 04.00, aku berangkat ke St. Kranji dan sampai jam 04.30. Saat aku sampai, aku bertemu Kak Lini, Yla, Vyel, dan Abel. Dan berngkat ke St. Jakarta Kota bersama. Perjalanan dari Kranji sampai Jakarta Kota berjalan sangat lancar, karena kereta yang kami naiki tidak begitu ramai. Selama 1 jam berjalan menggunakan kereta, kami akhirnya sampai di St. Jakarta Kota dan bertemu Kak Shanty, Kaysan, Agla, Alevko, dan Adinda. Kami memutuskan untuk langsung jalan menggunakan angkot ke Pelabuhan Sunda Kelapa, tapi dalam perjalanan keluar stasiun, kami bertemu Kak Opal!! Akhirnya kami berjalan bersama ke pelabuhan menggunakan angkot M15. 



Perjalanan dari Stasiun Jakarta Kota sampai Pelabuhan Sunda Kelapa terasa begitu singkat karena kita menghabiskan waktu kita untuk mengobrol di dalam angkot. Ternyata di pelabuhan, sudah ada banyak yang datang. Tak lama setelah kami sampai, kapal mulai dibuka, dan kami diperbolehkan masuk. Kami menyusun tempat duduk, Yla dan Fattah sibuk mengabsen, sementara aku duduk dan mengobrol bersama Adinda. Satu-persatu teman-teman datang, dan akhirnya terkumpul semua. Kapal mulai melaju, dan aku sangat bersemangat untuk eksplorasi tahun ini. Karena aku baru pertama kali pergi menggunakan kapal, dan pergi ke pulau bersama teman-teman!          


Kami diberi tugas oleh para mentor, untuk mewawancarai penumpang di kapal yang kami naiki. Dengan bantuan Abel dan Ziel, aku mewawancarai seorang pendeta, Pak Michael yang sedang dalam perjalanan ke Pulau Pramuka untuk berekreasi bersama teman-temannya. Pak Michael sangat menyukai Pulau Pramuka karena alamnya indah, dan karena Pulau Pramuka termasuk pulau yang sudah maju.


Di lantai bawah, ada deretan-deretan tempat tidur, jadi kami dapat mengobrol sambil tidur-tiduran. Ternyata perjalanan dari Pelabuhan Sunda Kelapa sampai Pulau Kelapa lama juga ya. Aku mulai bosan, dan untungnya diajak Ziel untuk melihat laut dari dek kapal. Wah, pemandangan yang sangat indah! Aku bisa melihat betapa luasnya laut, aku bisa melihat ikan-ikan yang melompat dari permukaan air laut, aku bisa mencium bau laut yang menurutku segar, dan aku juga bisa merasakan angin yang membuat rambutku berantakan. Aku menghabiskan waktu di dek, dengan mengobrol bersama teman-teman danmemotret teman-temanku.


Tak lama kemudian, kami diberi informasi bahwa sebentar lagi akan sampai di Pulau Kelapa!! Kami akan turuun disana, dan akan menyebrang ke Pulau Harapan denngan jembatan. Dan akhirnya kami sampai pada pukul 13.00!!!



Aku dengan tas carrier 8 kg yang “heboh”, mencoba untuk menguatkan diri karena harus berjalan 1 km ke PKBM 36. Dan hebatnya, setelah berjalan agak jauh, aku tidak merasa keberatan lagi! Yak, dengan perjalanan 30 menit, kami akhirnya sampai di PKBM 36 jam 13.30. Disana, kami diberi minum dan diberi “sambutan” dari para guru. Kami menghabiskan minum dan langsung lanjut ke SPTN 2, yang jaraknya sekitar 1 km dari PKBM 36. Yak, pada jam sekitar 14.15, kami sampai SPTN 2. Disana, kami makan siang dengan menu tempe, sayur asem, ikan, dan nasi! Wah, terasa nikmat sekali sehabis kecapean berjalan tadi. Mungkin karena kami terlalu lapar, makanan kami habis dalam sekejap! Jadi, setelah kami makan, kami diarahkan keluar, untuk briefing dan perkenalan dengan ibu inang masing-masing.


Aku mendapatkan ibu inang yang sangat ramah, Ia bernama Bu Jejah. Ia memiliki 4 anak, dan pekerjaanya adalah ibu rumah tangga. Tak lama setelah kami diperkenalkan dengan ibu inang masing-masing, kami diminta untuk mengambil tas kami, karena sebentar lagi kami akan ‘pulang’ ke rumah inang kami. Jadi, pada pukul 15.00, kami jalan bersama ibu inang kami.


Rumah Bu Jejah tidak begitu jauh dari SPTN 2, jadi kami hanya menghabiskan 10 menit untuk berjalan. Rumah Bu Jejah tidak bisa dibilang ‘mewah’, tapi kami bisa merasakan bahwa rumah ini memang nyaman dan terpelihara. Satu keluarga Bu Jejah tinggal disitu. Anak yang pertama berusia 20an, yang kedua 18 tahun, yang ketiga 12 tahun, yang yang terakhir masih berusia 5 tahun. Keluarga mereka sangat unik, menurut aku.


Kami sampai rumah, dan langsung ditunjukkan kamar yang akan kami pakai. “Wuih, ada ACnya!! Enak dong kalau malam-malam panas” kataku ke teman sekelompokku, Tata dan Syifa. Mereka menyetujui apa yang kubilang tadi. Kami hanya menaruh tas kami di kamar, dan langsung keluar lagi untuk mengobrol sedikit dengan Ibu. Pada hari kami datang, bapak sedang pergi ke laut untuk menangkap ikan, jadi kami belum mengobrol banyak dengan bapak.


Kami duduk di kursi depan sambil menunggu Kak Lini. Hari itu kami masih canggung dengan Bu Jejah, jadi kami betul-betul berharap Kak Lini cepat datang untuk memecahkan kecanggungan di rumah. Tapi Kak Lini tak kunjung datang!!! Untungnya tata pintar basa basi, jadi aku mulai tenang dan mulai mengobrol sedikit-sedikit dengan Bu Jejah. Untungnya, tak lama setelah kami mengobrol, Kak Lini datang!!!! “Lho, kalian gak jalan keliling pulau, buat eskplorasi sore?” kata Kak Lini saat memasuki rumah. Aku, Tata, dan Syifa bahkan tidak tahu ada eksplorasi sore, pada hari itu. Lalu, Kak Lini masuk dan mengobrol sedikit dengan Bu Jejah. Kak Lini menyuruh kami untuk menyiapkan tas untuk eksplorasi. Dengan cepat, kelompokku siap dalam 5 menit! Kami pamit kepada Ibu, dan langsung pergi ke belakang rumah.


Wah, ternyata di belakang rumah Bu Jejah langsung laut! Betapa asyiknya tinggal dirumah yang dekat dengan laut! Aku, Tata, dan Syifa berjalan menjauhi rumah kami tanpa mengetahui arah. Untungnya, kami bertemu dengan teman-teman dari kelompok lain!! Jadi, kami berjalan mengelilingi Pulau Harapan bersama. Pulau Harapan adalah pulau yang kecil, jadi ketika kami berjalan, kami bertemu lagi dengan teman-teman dari kelompok yang berbeda lagi! Sampai akhirnya, semua OasEksplorer berjalan mengelilingi pulau bersama.  Yudhis mengetahui banyak sekali informasi tentang pulau ini, jadi Yudhis kami jadikan sebagai “Tour Guide” saat eksplorasi sore. 2 jam terasa sangat singkat karena kami habiskan bersama teman-teman. Kami mengakhiri eksplorasi kali ini dengan bermain di taman terpadu.


Di taman terpadu ada beberapa ayunan, dan memang sangat mengasyikan bermain ayunan. Kami menghabiskan waktu dengan becanda, mengobrol, dan tak lupa rebutan ayunan. Sayangnya, sudah sore sehingga kami harus pulang.









 Kami dihidangkan makan malam yang lezat, yang langsung habis dengan cepat kilat. Badan kami terasa kotor dan lengket sehabis kena angin pantai. Jadi kami dipersilahkan mandi oleh Bu Jejah. Wah, tapi kamar mandinya agak seram, jadi aku dan Tata memutuskan untuk mandi bersama. Yak.
Malamnya, kami diajak bapak untuk jalan-jalan di pinggir laut. Wah, asyik sekali jalan-jalan di pinggir laut pada malam yang indah seperti ini. Bapak memberi unjuk kami kepada kapalnya, lalu kami diperbolehkan mengerjakan jurnal di pinggir laut!!! Memang asyik sekali malam ini :D