Selasa, 28 November 2017

Mengeksplorasi Kepulauan Seribu Bersama Pak Sahroni (OasEksplorasi Day-3)



“AAAAAH UDAH JAM 5!!!!” Teriakku sambil memukul-mukul tata dengan pelan. Tata terbangun dengan kaget dan dengan bingung. “Kenapa Rat?!” kata Tata dengan bingung. “Gw kan janjian sama Alev jam 4 mau ambil sunrise” kataku menjawab pertanyaan Tata. Aku memang sudah berjanji dengan Alevko dan Aza untuk mengambil footage sunrise di belakang rumah. Dan bodohnya aku, aku sudah bangun jam 2, tetapi aku menunda waktu untuk membangunkan Tata, karena aku melihat Tata tidur dengan sangat lelap. Jadi aku merasa kasihan untuk membangunkan Tata. Tapi jam 2.30, aku memutuskan untuk istirahat kembali supaya nanti pas shooting tidak ngantuk, tapi malah keterusan sampai jam 5!

Tepat jam 5 itu, aku langsung mengambil perlengkapan camera, tripod, dan langsung keluar kamar. Untungnya Ibu sudah bangun, jadi kami bisa pamit. Aku, Syifa, dan Tata, bergegas ke belakang rumah, dan melihat sudah ada Alevko, Vyel, Kaysan, dan Naufal yang sarapan di belakang rumah mereka. Karena juga ada Kak Lini disitu, kami mentoring sebentar untuk persiapan mengerjakan output hari ini.

Jadwal hari ini adalah mewawancarai bapak (untuk output), menggali kehidupan keluarga Pak Sahroni (bapak inangku) lebih dalam, dan ikut melaut bapak (untuk output).

Setelah kami mengobrol dengan Kak Lini, kami beranjak pulang untuk sarapan dan siap-siap mengerjakan output. Aku dan Tata memiliki jadwal yang sama hari ketiga ini, tapi berbeda dengan Syifa. Pagi itu, Syifa pergi ke rumah inangnya Yudhis, Aza, dan Ziel, bersama Pak Sahroni untuk kebutuhan outputnya. Sementara aku dan Tata dirumah mengobrol dengan Bu Jejah. Ternyata Bu Jejah memiliki 4 anak dengan usia yang beraneka ragam. Yang paling menarik dari kehidupan Bu Jejah, menurutku adalah untuk membangun rumah yang Ia tinggali saat ini, butuh perjuangan yang sangat besar. Ibu dan Pak Sahroni menabung sekian lama untuk membangun rumah ini, dan akhirnya setelah menabung, Ibu dan Bapak dapat mewujudkan impian besar mereka.

Ibu dulu sempat berjualan di sekolah, tapi sekarang sudah tidak. Bapak kurang setuju jikalau Ibu bekerja juga, jadi sekarang, pekerjaan Ibu Jejah adalah menjadi seorang ibu rumah tangga yang sangat bahagia. Ibu bilang, “saya sangat menikmati pekerjaan saya sebagai ibu rumah tangga, bisa bersama anak-anak saya terus, bisa memasak makanan-makanan untuk mereka, yah pokoknya saya senang menjadi ibu rumah tangga”. Dari informasi yang aku terima dari Ibu, anak pertama dari Bu Jejah dan Pak Sahroni sedikit susah berbicara. Walaupun sudah umur 20-an, tetapi sedikit susah berbicara.

Aku sangat salut kepada Ibu dan Bapak karena dengan sabar, mereka mendidik, membimbing, dan mereka sangat sayang kepadanya. Sampai sekarang, anak pertamanya masih tinggal bersama Bapak dan Ibu.

Aku, Tata, dan Bu Jejah, sudah membicarakan tentang banyak sekali hal, tapi Syifa dan Pak Sahroni belum datang pula! Kami bingung, karena hari sudah mulai siang dan kalau melaut siang-siang, ikan di laut kurang banyak. Aku mendapatkan informasi ini dari Pak Sahroni yang waktu itu sempat bercerita tentang pekerjaannya. Kami menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu, tapi tetap saja. Syifa tak kunjung datang!!!

Sampai Adiva dan Katya mampir ke rumah kami sebentar, ngobrol dulu, sampai mereka pergi, dan datang lagi!! Syifa dan Pak Sahroni masih belum datang! Akhirnya aku dan Tata memutuskan untuk menjemput Syifa ke rumah inangnya Yudhis. Kami akhirnya berjalan tanpa tahu arah, untungnya kami bertemu dengan Adiva lagi, jadi Adiva memawa kami ke rumah inangnya Yudhis. Ketika kami sampai, tidak ada tanda-tanda ada Syifa karena sendalnya tidak ada. “Permisi bu, Syifanya ada?” tanyaku kepada Ibu inangnya Yudhis. “Eh tadi ‘Sipa’nya barusan pulang dek” jawab ibu, yang membuatku dan Tata terkejut sekaligus lelah. Akhirnya dengan berat hati dan kaki, kami pamit, dan langsung beranjak pulang.

Perjalanan dari rumah Yudhis sampai rumahku tidak dekat, jadi melelahkan menurut kami yang sudah menunggu lama. Ketika sampai rumah kami, kami melihat Syifa, Bapak, dan Ibu sedang duduk di halaman depan. Syifa melihatku dan langsung tersenyum “Kamu ngapain jemput aku” Tanya Syifa yang hanya aku jawab dengan “lu lama”.

Bapak menyuruh kami siap-siap untuk berangkat melaut, karena sudah jam 9.00, dan kami masih kelelahan habis berjalan ke rumah Yudhis. Aku sudah menyiapkan semua perlengkapan output tadi saat menunggu Syifa, jadi aku ke kamar, mengambil tas, lalu aku siap untuk melaut! Ibu menyiapkan bekal makan kami, sementara aku dan Tata membujuk Syifa untuk ikut melaut bersama kami. Tapi selalu ditolak oleh Syifa karena katanya Ia masih mau mewawancarai orang di Pulau Harapan. Tak lama kemudian, Ibu mengeluarkan Tupperware milik Tata, dan kami siap berangkat menjelajahi pulau bersama Pak Sahroni!!!

Tujuan pertama kami adalah Pulau Papateo, pulau ini bukanlah pulau yang banyak orang bisa masuk tanpa ijin. Karena saudara Pak Sahroni adalah seorang penjaga pulau di Pulau Papateo, kami diperbolehkan ‘main’ sebentar. “Waaaaaah, bagus banget pulaunya yaa?!!” kata Tata dengan mata yang berbinar-binar melihat pantai di Pulau Papateo. Pak Sahroni memarkir kapal, lalu kami diperbolehkan untuk turun dan menjelajah pulau ini. Kami bermain di pantai yang berpasir putih dan halus, kami juga bercerita-cerita di tepi pantai. Sekitar 15 menit setelah kami bermain, kami dipanggil untuk mengambil kelapa dari pohonnya langsung. Pak Sahroni memanjat pohon kelapa, dengan cekatan, dan mengambilkan buah kelapa dari atas. Saudaranya Pak Sahroni bertugas untuk membukan kelapa yang tadi diambil oleh Pak Sahroni. Aku dan Tata diberi buah kelapa masing-masing satu, dan segarnya kelapa itu!! Beda dari yang biasa ku minum di kota.

Kami tidak menghabiskan waktu lama-lama karena kami mau memancing. Jadi kami berangkat dari Pulau Papateo ke Pulau Gosong untuk memancing!!! Aku mendapatkan footage yang banyak ketika bapak sedang memancing di Pulau Gosong. Tapi sayangnya, kami tidak mendapatkan ikan disini, jadi kami berangkat dari perairan Pulau Gosong ke  perairan Pulau Sepak. Kami mendapatkan ikan yang cukup banyak di Pulau Sepak! Tapi juga banyak yang kami lepas kembali karena ikannya masih kecil. Kami memancing lumayan lama, sampai akhirnya perut kami berteriak meminta makan. Karena memang sudah jam 12.30, yang artinya sudah jam makan siang. Jadi, kami berhenti di Pulau Sepak dan makan di atas kapal sambil melihat ikan-ikan di bawah kapal kami. Ibu membawakan kami bekal ikan bumbu kuning yang lezaaaat sekali. Dan kami makan di laut, jadi spertinya makanan kami tambah lezat!

Kami melahap makanan kami yang enak, sambil memberi makan ikan-ikan dilaut juga. Setelah makan, aku meminta izin untuk mewawancarai Pak Sahroni. Wawancara berjalanan dengan lancar karena cara bapak menerangkan sesuatu, sangat mudah dipahami. Setelah wawancara, kami diperbolehkan turun dari kapal, dan mengekslor Pulau Sepak.
 
Pulau Sepak adalah pulau yang banyak pohonnya, dan banyak bulu babinya. Aku dan Tata bermain-main di air sambil bercanda-canda sampai kelelahan dan akhirnya kami duduk di kursi dekat pohon yang rimbun. Ketika sedang mengobrol, aku melihat ada seekor binatang. Aku belum sadar dengan apa yang aku lihat. Tetapi ketika sadar, ternyata binatang itu adalah seekor biawak!! Dengan cepat, aku melompat dari kursi, membuka tutup lensaku, dan langsung memotret biawak itu sebanyak-banyaknya. Kami sempat mencari biawak ke tempat pembuangan sampah, tapi sayangnya, tempat pembuangan sampah digerbang dan yang boleh masuk hanya yang punya urusan penting.

Karena sudah mulai sore, kami mulai perjalanan kami lagi ke perairan Pulau Belanda, untuk memancing. Ternyata kami mendapatkan ikan yang lumayan banyak, jadi pada hari itu, kami  bahagia karena mendapatkan ikan yang banyak.  Kami memancing di perairan yang berbeda-beda dan mendapatkan ikan yang bermacam-macam. Sampai, kami memutuskan untuk pergi ke Pulau Bulat untuk melihat-lihat. Wah, ternyata bagus ya Pulau Bulat, kami dijelaskan bahwa Presiden kedua Republik Indonesia, Pak Harto, pernah tinggal disini.

Kami sudah lelah, dan memutuskan untuk pulang. Akhirnya pada jam 4.30, kami sampai di Pulau Harapan. Kami mengobrol dulu di dekat jajanan pulau bersama teman-teman lainnya. Aku dan Tata menceritakan tentang betapa bagusnya pulau-pulau yang tadi kami datangi. Dan akhirnya, kami berjalan pulang karena ingin mandi, dan istirahat. Tapi saat berjalan ke rumah, kami bertemu bapak yang sedang duduk di saung di belakang rumah. Jadi aku memutuskan untuk  mewawancarai bapak pada sore itu. Wawancaranya sangat mengasyikkan karena kami mendapatkan banyak sekali informasi tentang terumbu karang, dan tentang pekerjaan bapak. Setelah wawancara, aku mengambil beberapa footage sore, lalu beranjak pulang ke rumah. Di rumah, kami sudah dihidangkan makan malam. Dengan lahap, kami makan makanan yang sudah dihidangkan, lalu langsung masuk kamar.

Malam itu, kami pergi ke rumah mentor untuk menulis refleksi dan diberi jadwal pulang untuk besok. Ya, kami mengakhiri malam kami dengan packing barang-barang kami untuk besok. Hiks, selamat tinggal Pulau Harapan :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar